Karena nila setitik,
rusak susu sebelanga.
Pepatah ini sangat tepat melihat keadaan
kampus-kampus di Makassar saat ini. Ulah segelintir mahasiswa yang tawuran
berdampak pada citra kampus dan berefek pada semua mahasiswa, termaksud alumni
kampus tersebut.
“Lagi-lagi
suara dentangan tiang listrik dan teriakan lantang terdengar dari kampusku
tercinta. seketika mahasiswa berhamburan bak ninja siap mempertahankan wilayah
kekuasaan. makna kampus sebagai tempat orang-orang intelek dan pencetak tenaga
pendidik dalam sekejap hilang tersapu ego dari segelintir oknum yang
mengatasnamakan solidaritas. sinar almamatermu yg dulu terang kini mulai
meredup, usang oleh karna aksi-aksi yg tidak bertanggung jawab. apa yang salah
dengan dirimu ????? semoga kedamaian menghampirimu,jayalah selalu kampus
rajawali”. Keluh seorang kawan yang sedang melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta.
Bukan tanpa alasan
kawan ini menuliskan keluhnya di dinding FB. Baru saja dia dapat kabar telah terjadi
tawuran di kampusnya dulu. Kampus dimana dia dinobatkan sebagai calon guru.
Parahnya, tawuran itu pecah tepat di hari guru nasional. Dapat dibayangkan,
bagaimana kawan ini menjawab pertanyaan teman-temannya yang menanyakan
kebenaran kabar ini. Haruskah dia mengelak bahwa itu hanya segelintir
mahasiswa. Bagaimana dia pertahankan citra kampusnya ditengah gempuran
pemberitaan yang negative. Jawabnya dapat kita temukan lewat statusnya.
Satu lagi kawan yang
mencari nafkah di pulau Kalimantan yang juga alumni Makassar. Dia berkomentar “Gara-gara sering ada tawuran di kampus Makassar. Disini (Sangatta,
Kaltim) orang bugis dan makassar terkenal sebagai orang yang kasar-kasar dan
suka berkelahi. Bahkan ada orang yang
cerita kalau dia tidak diterima kerja di perusahaan karena dia alumni
mahasiswa Makassar”.
Sangat miris membaca
komentar kawan ini. Sesama alumni mahasiswa Makassar,
tentu kami tidak dapat berbuat banyak, kecuali hanya dapat berkata tidak semua
mahasiswa Makassar terlibat tawuran, itu hanya segelintir mahasiswa.
Tapi kami tidak pernah
menyesal jadi mahasiswa Makassar, meski mendapat image jelek. Mahasiswa
Makassar juga banyak berprestasi diluar sana. Sudah saatnya mahasiswa bersuara
ditengah pemberitaan yang kurang mengenakkan. Mahasiswa yang tawuran itu hanya
segelintir orang, jauh lebih banyak mahasiswa yang berprestasi yang lahir di
Makassar.
Mari kita suarakan “Saya Mahasiswa Makassar, Saya TIDAK Tawuran”.
Mari kita suarakan “Saya Mahasiswa Makassar, Saya TIDAK Tawuran”.
Makassar, 25 November 2013

Posting Komentar