skip to main |
skip to sidebar
Belajar Dari FilmThe Philoshopher
Tulisan ini
berangkat dari film The Philosopher, film hollywood yang mengambil gambar di
empat lokasi berbeda di Indonesia. Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik dengan
film ini, bukan juga karena salah satu pemeran dalam film ini adalah Cinta
Laura.
Film yang
dirilis tahun 2013 ini berceritakan pertemuan terakhir dalam sebuah kelas
philosophy. Dalam pertemuan itu dilakukan sebuah eksprimen, dimana dalam
eksprimen itu akan terjadi bencana yang maha dahsyat dan akan berefek pada
kelangsungan manusia. Dalam situasi itu terdapat beberapa titik-titik bunker
(tempat penampungan) untuk terhindar dari efek dari bencana tersebut.
Masalahnya
bunker hanya dapat menampung 10 orang untuk bertahan selama satu tahun. Sedangkan
jumlah mereka 21 orang. Untuk menyeleksi siapa dari 21 orang ini yang dipilih
menjadi 10 orang untuk mengisi bunker tersebut, dibagilah kartu yang berisikan
identitas mereka masing-masing.
Setiap orang menjelaskan
identitasnya dan kenapa dia harus dipilih di depan 20 orang lainya. Setiap
orang berhak dipilih dan memilih. Semua punya hak sama untuk dipilih dan
memilih. Setiap orang punya kesempatan dan peluang yang sama untuk mengisi
bunker. Sebuah system berlaku untuk menyeleksi mereka dengan satu tujuan untuk
kelangsungan hidup manusia.
Meski tiga kali
percobaan yang dilakukan tidak ada yang berhasil. Namun, pelajaran yang bisa
kita ambil dari film ini. Pertama, untuk menghasilkan sebuah sistem yang baik kita
harus punya tujuan yang sama untuk perbaikan ke depan. Visi dan misi harus
jelas dan realistis untuk dilaksanakan.
Kedua, setiap
orang tahu sejauh mana potensi masing-masing, baik yang akan memilih maupun
yang akan dipilih. Sehingga, tidak terjadi kekecewaan yang berlebihan karena
yang terpilih benar-benar terseleksi berdasarkan potensi yang dimiliki.
Ketiga,
kecurangan mungkin saja dapat terjadi. Tapi dengan keterbukaan dan saling
mengetahui masing-masing potensi yang dimiliki, kecurangan itu dapat
diminalisir sekecil mungkin.
Keempat, dalam
film ini kita juga dapat belajar bagaimana sistem itu bekerja mengungkap
ketidakbenaran atau kecurangan yang terjadi. Hal ini dapat kita saksi disetiap
eksprimen yang ada dalam film ini, bagaimana rekayasa yang dilakukan dalam
sistem yang berjalan terbongkar yang berefek pada kegagalan eksprimen tersebut.
Empat hal ini
pelajaran yang saya temukan dalam film
ini, mungkin anda dapat memetik lebih banyak lagi pelajaran dari film ini.
Kita saat ini
dihadapkan dalam sebuah situasi yang hampir sama dengan film ini. Kita kita
barusaja disodorkan beragam pilihan untuk memperbaiki kehidupan kita ke depan. Kita
juga diperhadapkan sebuah sistem yang akan menyeleksi pilihan-pilihan itu.
Namun, kita
disodorkan pilihan-pilihan yang kita sama sekali tidak tahu latar belakang dan
potensi yang dimilikinya. Kita pun mungkin mengenal beberapa pilihan-pilihan
itu karena wajahnya sering kita jumpai diruang-ruang publik. Atau kita memilih
karena mendapat sesuatu. Siapa mereka ? Kenapa mereka mesti dipilih ?. Terus
apa pengaruhnya pada kehidupan kita ke depan jika mereka-mereka terpilih ?.
Pertanyaan-pertanyaan ini masih jadi tanda tanya sampai detik ini.
Kita sama sekali
buta akan potensi yang dimilikinya dan kita tidak memiliki alasan mengapa kita
harus memilihnya. Kurangnya pengetahuan atas pilihan-pilihan yang disodorkan
menciptakan pemilih-pemilih pragmatis. Dan akan melahirkan pilihan-pilihan yang
bersifat pragmatis juga.
Terus, pelajaran
apa yang bisa dipetik dari pemilihan legislatife 2014 kali ini. Mungkin ada
benarnya candaan teman pemilu kali ini berefek pada rendahnya gizi buruk karena
bannyak beredar uang kaget dan sembako gratis.
NB; Tulisan ini sudah diterbitkan Koran Mingguan Daualat Rakyat pada bulan april 2014
Posting Komentar