Belajar Dari FilmThe Philoshopher

Rabu, 25 Juni 20140 komentar

 

Tulisan ini berangkat dari film The Philosopher, film hollywood yang mengambil gambar di empat lokasi berbeda di Indonesia. Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik dengan film ini, bukan juga karena salah satu pemeran dalam film ini adalah Cinta Laura.

Film yang dirilis tahun 2013 ini berceritakan pertemuan terakhir dalam sebuah kelas philosophy. Dalam pertemuan itu dilakukan sebuah eksprimen, dimana dalam eksprimen itu akan terjadi bencana yang maha dahsyat dan akan berefek pada kelangsungan manusia. Dalam situasi itu terdapat beberapa titik-titik bunker (tempat penampungan) untuk terhindar dari efek dari bencana tersebut.

Masalahnya bunker hanya dapat menampung 10 orang untuk bertahan selama satu tahun. Sedangkan jumlah mereka 21 orang. Untuk menyeleksi siapa dari 21 orang ini yang dipilih menjadi 10 orang untuk mengisi bunker tersebut, dibagilah kartu yang berisikan identitas mereka masing-masing.

Setiap orang menjelaskan identitasnya dan kenapa dia harus dipilih di depan 20 orang lainya. Setiap orang berhak dipilih dan memilih. Semua punya hak sama untuk dipilih dan memilih. Setiap orang punya kesempatan dan peluang yang sama untuk mengisi bunker. Sebuah system berlaku untuk menyeleksi mereka dengan satu tujuan untuk kelangsungan hidup manusia.

Meski tiga kali percobaan yang dilakukan tidak ada yang berhasil. Namun, pelajaran yang bisa kita ambil dari film ini. Pertama, untuk menghasilkan sebuah sistem yang baik kita harus punya tujuan yang sama untuk perbaikan ke depan. Visi dan misi harus jelas dan realistis untuk dilaksanakan. 

Kedua, setiap orang tahu sejauh mana potensi masing-masing, baik yang akan memilih maupun yang akan dipilih. Sehingga, tidak terjadi kekecewaan yang berlebihan karena yang terpilih benar-benar terseleksi berdasarkan potensi yang dimiliki.

Ketiga, kecurangan mungkin saja dapat terjadi. Tapi dengan keterbukaan dan saling mengetahui masing-masing potensi yang dimiliki, kecurangan itu dapat diminalisir sekecil mungkin.

Keempat, dalam film ini kita juga dapat belajar bagaimana sistem itu bekerja mengungkap ketidakbenaran atau kecurangan yang terjadi. Hal ini dapat kita saksi disetiap eksprimen yang ada dalam film ini, bagaimana rekayasa yang dilakukan dalam sistem yang berjalan terbongkar yang berefek pada kegagalan eksprimen tersebut.

Empat hal ini pelajaran yang saya  temukan dalam film ini, mungkin anda dapat memetik lebih banyak lagi pelajaran dari film ini.

Kita saat ini dihadapkan dalam sebuah situasi yang hampir sama dengan film ini. Kita kita barusaja disodorkan beragam pilihan untuk memperbaiki kehidupan kita ke depan. Kita juga diperhadapkan sebuah sistem yang akan menyeleksi pilihan-pilihan itu.

Namun, kita disodorkan pilihan-pilihan yang kita sama sekali tidak tahu latar belakang dan potensi yang dimilikinya. Kita pun mungkin mengenal beberapa pilihan-pilihan itu karena wajahnya sering kita jumpai diruang-ruang publik. Atau kita memilih karena mendapat sesuatu. Siapa mereka ? Kenapa mereka mesti dipilih ?. Terus apa pengaruhnya pada kehidupan kita ke depan jika mereka-mereka terpilih ?. Pertanyaan-pertanyaan ini masih jadi tanda tanya sampai detik ini.

Kita sama sekali buta akan potensi yang dimilikinya dan kita tidak memiliki alasan mengapa kita harus memilihnya. Kurangnya pengetahuan atas pilihan-pilihan yang disodorkan menciptakan pemilih-pemilih pragmatis. Dan akan melahirkan pilihan-pilihan yang bersifat pragmatis juga.

Terus, pelajaran apa yang bisa dipetik dari pemilihan legislatife 2014 kali ini. Mungkin ada benarnya candaan teman pemilu kali ini berefek pada rendahnya gizi buruk karena bannyak beredar uang kaget dan sembako gratis. 

NB; Tulisan ini sudah diterbitkan Koran Mingguan Daualat Rakyat pada bulan april 2014 

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ruang Waktu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger