IA membenci waktu. Setiap bunyi detak detik terngiang di
telinganya IA lari bersembunyi
menutup telinganya. Wajahnya pucat, bibirnya putih, badannya gemetar, keringat
dingin keluar dari setiap pori-pori kulitnya. Detak detik membuatnya pesakitan
yang tak berdaya melawannya. Detak detik bagai lonceng kematian baginya.
Memanggilnya menuju puncak kehidupan.
Kadang IA berfikir untuk menghantikan waktu. Tapi, bagaimana caranya. Tak
ada yang dapat menghentikan waktu. Tak ada yang mampu. Waktu adalah kehidupan.
Menghentikannya itu artinya kematian. Terus apa yang ia harus lakukan.
IA masih bersembunyi di sudut kamar. Pasrah dan berdoa. berharap agar
waktu itu berhenti dengan sendirinya. Gendang telinganya sudah sangat sakit
mendengar detak detik yang berpindah tiada hentinya. IA mau berteriak sekeras-kerasnya agar sakit itu pergi
meninggalkannya. Agar waktu itu berhenti mengeluarkan suara yang membuat
telinganya sakit. Tapi, siapa yang mampu melawan kuasa waktu.
IA tak dapat menghidar dari kuasa waktu. Mau lari kemana waktu akan
terus berputar mengikuti langkahnya. Semakin cepat langkahnya semakin cepat
pula waktu berputar. Waktu adalah kecepatan yang tak tertandingi.
IA coba mengelabui waktu dengan berhenti bergerak dan menahan
nafas. Percuma, waktu penunggu yang setia. Tak ada yang sesabar waktu dalam hal
menunggu. Tak ada yang bisa melawan waktu. Terus bagaimana IA dapat melewati kuasa waktu. IA
tak berdaya melawan kuasa waktu.
Waktu tak bisa IA hentikan. Apalagi berfikir melawan
waktu. IA harus berteman dengan
waktu, bersahabat dengan waktu. Bercengkrama dengan waktu hingga IA lupa waktu. Hingga ia lupa sakit
yang diderita karena waktu. Iya, itu ide yang bagus.
Mulai saat itu, IA bangkit menahan sakit dan mulai
bersahabat dengan waktu. Detak detik bak lonceng kematian itu IA hadapi. Detik adalah adalah tarikan
nafasnya, menit adalah geraknya, jam adalah ruangnya, hari adalah lakunya, minggu adalah ceritanya,
bulan adalah kumpulan ceritanya, tahun adalah buku kehidupannya. Karena IA adalah Waktu yang berkisah.
Toddopuli, 4 Januari 2015
(Cermin/Cerita Minggu)

Posting Komentar