Pesan Penghargaan Terhadap Perempuan Dari Preman Pensiun (Sebuah resensi film serial )
Minggu, 01 Februari 20150 komentar
Film serial komedi “Preman Pensiun” cukup menarik perhatian saya. Sudah lima episode tidak saya lewatkan. Penayangannya yang bertepatan waktu sholat magrib untuk wilayah Indonesia Timur film ini cukup mengganggu, syukurnya iklan film ini cukup banyak sehingga bisa diatasi hehehe….
Bercerita preman yang sudah tidak turun lagi ke lapangan hanya di rumah mengotrol anak buahnya. Didi Petet tak diragukan lagi aktingnya untuk memerankan karakter Bahar sebagai preman yang sudah pensiun di film ini. Akting Epy Kusnandar juga sangat mengesankan berperan sebagai kang Mus atau Muslihat sebagai tangan kanan Bahar. Muslihatlah yang mengontrol preman-preman di bawah naungan Bahar.
Gaya bahasa kocak dengan logat khas sunda film ini cukup menghibur ditonton sambil menunggu masuknya waktu magrib. Layaknya sebuah film yang menitipkan sebuah pesan yang ingin disampaikan ke penontonnya. Film ini juga menitipkan pesan-pesan moral yang diselipkan didialog antar pemerannya.
Saya senang karakter Bahar yang diperankan Didi Petet. Di balik karakter yang disegani dan ditakuti oleh anak buahnya yang preman. Namun, sangat lembut kepada istrinya (kayanya para suami atau calon suami harus mencontoh karakter ini hehehe…..). Penghargaan Bahar kepada perempuaan sangat melekat padanya. Di suatu adegan ketika anaknya Kirana membentak ibunya di depannya, Ia langsung memanggil anaknya dan menesahatinya.
“Kau tahu ibumu telah mengandungmu 9 bulan, setelah itu merawatmu sampai besar, begitu tega kamu berbicara dengan nada keras,,,, sana minta maaf sama ibumu” nasehatnya dengan mimik wajah menahan air mata.
Episode lain Bahar mendapat keluhan dari istri salah satu preman karena mengalami KDRT. Baharpun langsung memanggil Muslihat untuk mencari preman itu.
“Kau tahu perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari tulang kepala untuk dijunjung, bukan dari tulang kaki untuk diinjak, tapi dari tulang rusuk untuk didampingi, disayangi dan dilindungi. Kau tahu letak tulang rusuk itu di mana ? Sini saya tunjukkan letak tulang rusuk itu” kata Bahar saat bertemu preman itu dan prekkk,,,,prakkk,,,,prekkkk tiga tulang rusuk preman itu remuk mendapat hantaman dari Bahar.
Lain lagi ceritanya ketika Muslihat berdiskusi dengan Bahar di rumahnya. Di tengah perbincangannya HP Muslihat bunyi tapi langsung dirijek.
Baharpun bertanya
“Kenapa tidak diangkat ?” dengan logat khas Sunda.
“Tidak penting kang” kata Muslihat.
“ Dari siapa ?” lanjut Bahar.
“ Dari Istri kang” jawab Muslihat.
“ Kenapa tidak diangkat ?” Bahar kembali bertanya dengan nada aga tinggi.
“Tidak penting kang” jawab Muslihat.
“Kenapa tidak diangkat, siapa tahu penting, itu istri kamu. Telpon balik sana” pinta Bahar dengan nada keras.
Muslihat pun langsung menelpon istrinya. Dan kembali ke depan Bahar sambil berkata mertua saya hilang di pasar, saya sudah suruh orang untuk mencarinya.
“Mertua kamu itu ibu dari istri kamu, ibu dari istri kamu itu adalah ibumu juga. Sana cari....” bentak Bahar. Muslihatpun langsung pergi dengan motor vespa biru miliknya.
Itulah beberapa percakapan bagaimana Bahar yang merupakan bos preman yang sangat menghargai sosok perempuan. Di samping kesetiaan Bahar menemani istrinya yang sedang sakit yang ditampilkan dalam film ini.
Saran saya film ini layak ditonton untuk para suami dan para calon suami. Selain menghibur karena disajikan dalam bentuk serial komedi. Dibanding film serial manusia ini, manusia itu, jadi hewan ini, jadi hewan itu, ganteng-ganteng ko hewan.......hehehehe…….

Posting Komentar