DIA GURUKU

Minggu, 24 November 20130 komentar





Aku lupa namanya, mungkin aku berdosa karena lupa namanya. Tapi aku tidak pernah lupa jasanya. Dia mengajarkanku mengenal huruf dan angka. Dia orang pertama yang mengenalkan huruf a, i, u, e, o dan  huruf-huruf lainnya. Dia yang pertama mengajarkanku menambah  angka 1, 2, 3, 4 dst. 

Aku lupa namanya, tapi aku tidak lupa keriput diwajahnya yang semakin berkerut jika lagi marah. Keriput diwajahnya akan semakin jelas jika tangannya mendarat di perutku karena salah mengeja huruf atau salah menyebut angka. Cubitannya sangat pedis hingga Aku tidak pernah lupa pedisnya sama dengan ilmu yang dia berikan padaku, Aku tidak akan pernah lupa.  

Aku lupa namanya tapi aku tidak pernah lupa ilmunya. Huruf-huruf yang berjejer rapi yang anda baca ini adalah buah dari ilmunya. Huruf-huruf ini akan menjadi pahala baginya. Dia guruku saat di SD kelas satu  meski Aku lupa namanya.
***
Kalian ini Tedong” kata yang terlontar dari mulutnya jika lagi marah. Kata itu keluar begitu saja dari mulutnya dengan suara yang keras. Tedong yang artinya kerbau dapat kita hitung berapa kali dia sebut jika lagi menasehati murid-muridnya. Apa lagi dalam keadaan emosi karena tingkah murid-muridnya yang nakal. 

Karena kata tedong Aku tidak pernah lupa dengannya. Dia guru olahraga saat aku masih SD. Dia guruku yang suka menyebut Aku tedong. Dia guruku yang membuat Aku dapat menggunakan akalku, tidak seperti tedong.  
***
Tidak ada yang menyangka Dia akan marah pagi itu. Kami  hanya menjawab pertanyaan yang diberikan. Tiba-tiba dia berdiri dan meninggalkan kelas kami. Sambil berkata saya tidak ingin mengajar dikelas ini lagi. Sontak, kami semua saling berpandangan satu sama lain. Sambil mencari kesalahan kami. 

Setelah kami telusuri ternyata Dia tersinggung, dengan nada suara kami dalam menjawab pertanyaannya. Entah, kenapa pagi itu kami sangat kompak menjawab pertanyaan, tanpa ada komando nada kami semua sama, hingga membuat Dia tersinggung. Sambil keluar dari kelas Dia berkata “Saya bisa bedakan nada serius dengan nada main-main”.

Dia tersinggung dengan cara kami menjawab pertanyaannya, jawaban kami tidak salah cuma cara menyampaikannya yang salah. Kami satu kelas menghadap dan meminta maaf, Dia kembali mengajar kami. Dia guruku yang mengajarkan aku cara menjawab yang benar (etika) bukan jawaban yang benar.
  
  ***
Senyumnya pagi itu sangat manis, sangat indah. Tapi Aku tidak pedulikan, hanya sepintas Aku meliriknya, sejenak Aku terpana dan berlalu. Senyum itu terbayang dan terus terbayang. Senyum yang indah, sangat indah. 

Senyumnya masih terbayang hingga Aku menemukan jasadnya sudah tak bernyawa. Tapi senyumnya yang indah masih tetap terbayang. Orang-orang datang memelukku sambil menangis, tidak sedikitpun air mataku keluar, Aku masih terbanyang senyumnya yang indah. Dan Aku mengantar jasadnya ketempat peristirahatan terakhir dengan membalas senyum indahnya. Dia guruku yang mengajarkan aku senyum manis dan indah. 
***
Sudah banyak orang yang telah menjadi guruku, mereka yang mengajarkan makna kehidupan, mereka yang mengajarkan arti kehidupan, mereka yang memberitahu begaimana memaknai kehidupan. Tentu, Aku tidak dapat menyebutnya satu per satu karena keterbatasan daya ingatku tapi ilmu dan jasanya tidak pernah Aku lupa.

Dia guruku dan selamanya jadi guruku. Selamat HARI GURU untuk semua guru dan semua guruku. Ilmu dan jasamu akan Aku selalu ingat dan Aku panjatkan dalam doa-doaku. 

YA Rabbi berkahilah ilmu dan jasa para guru-guru agar bernilai ibadah dan mengantarkannya menuju hidayahMU. Amin Ya Rabbal Alamin…..

Catatan Hari Guru Nasional
Makassar,  25 November 2013

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ruang Waktu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger