Aku lupa namanya, mungkin aku berdosa karena lupa namanya. Tapi aku tidak pernah lupa jasanya. Dia mengajarkanku mengenal huruf dan angka. Dia orang pertama yang mengenalkan huruf a, i, u, e, o dan huruf-huruf lainnya. Dia yang pertama mengajarkanku menambah angka 1, 2, 3, 4 dst.
Aku lupa namanya, tapi aku tidak
lupa keriput diwajahnya yang semakin berkerut jika lagi marah. Keriput
diwajahnya akan semakin jelas jika tangannya mendarat di perutku karena salah
mengeja huruf atau salah menyebut angka. Cubitannya sangat pedis hingga Aku
tidak pernah lupa pedisnya sama dengan ilmu yang dia berikan padaku, Aku tidak
akan pernah lupa.
Aku lupa namanya tapi aku tidak
pernah lupa ilmunya. Huruf-huruf yang berjejer rapi yang anda baca ini adalah
buah dari ilmunya. Huruf-huruf ini akan menjadi pahala baginya. Dia guruku saat
di SD kelas satu meski Aku lupa namanya.
***
“Kalian ini Tedong” kata
yang terlontar dari mulutnya jika lagi marah. Kata itu keluar begitu saja dari
mulutnya dengan suara yang keras. Tedong yang
artinya kerbau dapat kita hitung berapa kali dia sebut jika lagi menasehati
murid-muridnya. Apa lagi dalam keadaan emosi karena tingkah murid-muridnya yang
nakal.
Karena kata tedong Aku tidak pernah lupa dengannya. Dia guru olahraga saat aku
masih SD. Dia guruku yang suka menyebut Aku tedong.
Dia guruku yang membuat Aku dapat menggunakan akalku, tidak seperti tedong.
***
Tidak ada yang menyangka Dia akan
marah pagi itu. Kami hanya menjawab pertanyaan
yang diberikan. Tiba-tiba dia berdiri dan meninggalkan kelas kami. Sambil
berkata saya tidak ingin mengajar dikelas ini lagi. Sontak, kami semua saling
berpandangan satu sama lain. Sambil mencari kesalahan kami.
Setelah kami telusuri ternyata
Dia tersinggung, dengan nada suara kami dalam menjawab pertanyaannya. Entah,
kenapa pagi itu kami sangat kompak menjawab pertanyaan, tanpa ada komando nada
kami semua sama, hingga membuat Dia tersinggung. Sambil keluar dari kelas Dia berkata “Saya bisa bedakan nada serius dengan nada main-main”.
Dia tersinggung dengan cara kami
menjawab pertanyaannya, jawaban kami tidak salah cuma cara menyampaikannya yang
salah. Kami satu kelas menghadap dan meminta maaf, Dia kembali mengajar kami.
Dia guruku yang mengajarkan aku cara menjawab yang benar (etika) bukan jawaban
yang benar.
***
Senyumnya pagi itu sangat manis,
sangat indah. Tapi Aku tidak pedulikan, hanya sepintas Aku meliriknya, sejenak
Aku terpana dan berlalu. Senyum itu terbayang dan terus terbayang. Senyum yang
indah, sangat indah.
Senyumnya masih terbayang hingga
Aku menemukan jasadnya sudah tak bernyawa. Tapi senyumnya yang indah masih
tetap terbayang. Orang-orang datang memelukku sambil menangis, tidak sedikitpun
air mataku keluar, Aku masih terbanyang senyumnya yang indah. Dan Aku mengantar
jasadnya ketempat peristirahatan terakhir dengan membalas senyum indahnya. Dia
guruku yang mengajarkan aku senyum manis dan indah.
***
Sudah banyak orang yang telah
menjadi guruku, mereka yang mengajarkan makna kehidupan, mereka yang mengajarkan
arti kehidupan, mereka yang memberitahu begaimana memaknai kehidupan. Tentu,
Aku tidak dapat menyebutnya satu per satu karena keterbatasan daya ingatku tapi
ilmu dan jasanya tidak pernah Aku lupa.
Dia guruku dan selamanya jadi guruku. Selamat HARI GURU untuk semua guru dan semua guruku. Ilmu dan jasamu akan Aku selalu ingat dan Aku panjatkan dalam doa-doaku.
YA Rabbi berkahilah ilmu dan jasa para guru-guru agar bernilai ibadah dan mengantarkannya menuju hidayahMU. Amin Ya Rabbal Alamin…..
Dia guruku dan selamanya jadi guruku. Selamat HARI GURU untuk semua guru dan semua guruku. Ilmu dan jasamu akan Aku selalu ingat dan Aku panjatkan dalam doa-doaku.
YA Rabbi berkahilah ilmu dan jasa para guru-guru agar bernilai ibadah dan mengantarkannya menuju hidayahMU. Amin Ya Rabbal Alamin…..
Catatan Hari Guru Nasional
Makassar, 25
November 2013
Posting Komentar