![]() |
| Tribun Timur, 16 oktober 2012 |
Tawuran dikalangan pelajar benar-benar membuat malu dunia pendidikan. Apalagi sampai memakan korban. Tawuran seakan sudah menjadi budaya dan ritual tiap tahun. Ironisnya tawuran yang terakhir di kampus pencetak tanaga pendidik.
Segala upaya telah dilakukan mengatasi masalah ini, mulai memberikan sanksi yang keras kepada pelaku tawuran sampai membatasi aktifitas Lembaga Kemahasiswaan (LK) pada malam hari di dalam kampus. Namun, itu semua tak ada arti ketika tawuran terulang lagi.
Tawuran antar pelajar bukanlah masalah yang sepele, selesai dengan memdamaikan kedua belah pihak. Tawuran sudah menjadi masalah multikompleks, tentu dalam penyelesaiannya butuh peran dari berbagai pihak.
Banyak hal yang bisa menjadi pemicu tawuran, terkadang penyebab tawuran hanya masalah kecil dan tidak masuk akal yang dampaknya bisa berujung maut. Misalnya tawuran yang terakhir terjadi di UNM yang hanya insiden kecil di tempat parkir hingga berujung dengan meninggalnya 2 orang pelajar.
Apa yang sebenarnya terjadi di dunia pendidikan kita? Ada apa dengan pelajar-pelajar kita? Kenapa tawuran begitu mudah terjadi dikalangan pelajar? Dimana peran para pendidik saat tawuran terjadi? Pertanyaan-pertanyaan ini, mesti ditemukan jawabannya. Sudah saatnya merefleksikan upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi tawuran yang sering terjadi, apa sudah tepat langkah yang diambil atau langkah yang diambil malah memperparah masalah, serta dimana peran pendidik sebagai garda depan dunia pendidikan dalam mengatasi tawuran.
Peran Pendidik
Mengamati beberapa tawuran yang terjadi, para pendidik seakan lepas tangan atau lebih tepatnya cari aman. Tawuran antar pelajar seakan tidak ada kaitan dengan para pendidik. Tawuran dianggap sebagai kenakalan remaja. Sehingga tawuran diserahkan penuh kepada birokrasi kampus dan pihak yang berwajib. Tawuran dianggap tidak ada hubungannya dengan materi atau tugasnya sebagai pendidik. Tugas pendidik hanya mengajar di dalam kelas. Tugas pendidik hanya memberikan pelajaran dan tugas terkait materi ajar yang mereka kuasai. Sedangkan tawuran itu urusan birokrasi kampus dan yang bertanggungjawab dalam penyelesaiannya adalah birokrasi kampus.
Dalam UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen dituliskan kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Berdasarkan UU di atas, seorang pendidik bertanggungjawab atas perkembangan potensi peserta didik, termaksud menciptakan pelajar yang berakhlak mulia. Pada hakikatnya perilaku pelajar adalah manifestasi dari seorang pendidik. Namun, sebagian pendidik tidak menyadari itu.
Sehingga interaksi pendidik dan peserta didik hanya berlangsung di dalam kelas dan hanya terkait dengan materi ajar yang diberikan. Selanjutnya, para pendidik hilang dari dunia peserta didik. Apakah materi ajar yang diberikan kepeda peserta didik berimplikasi terhadap kehidupan sehari-hari peserta didik itu tidak pernah dipikirkan. Apakah peserta didik bisa menyelesaikan tugas yang diberikan itu bukan urusan para pendidik.
Paserta didik yang tidak bisa mengikuti irama pembelajaran semacam ini akan kesulitan dalam mengembangkan potensi dirinya. Dalam kondisi kejiwaan yang masih labil ditambah tumpukan tugas dari para pendidik membuat peserta didik mencari suasana baru untuk menyalurkan potensi yang ada dalam dirinya.
Mestinya pendidik hadir sebagai partner sharing peserta didik untuk menyelesaikan problem-problem yang dihadapi. Dan pendidik menjadi tempat konsultasi peserta didik atas problem yang dihadapi dalam mengembangkan potensi diri.
Kenyataannya sebagian pendidik menjadi momok yang menakutkan bagi peserta didik. Sehingga banyak peserta didik yang tidak ingin bertatap muka langsung dengan pendidiknya. Hal ini terjadi karena pola interaksi pendidik dan peserta didik hanya berlangsung di dalam kelas.
Kurangnya ruang-ruang diskusi yang mempertemukan pendidik dan peserta didik, menjadikan pendidik terasing bagi peserta didik. Penulis yakin para pendidik punya niat mengembangkan potensi peserta didik dan menjadikan peserta didik generasi yang berakhlak. Namun, ini tidak tersalurkan karena dibatasi ruang-ruang diskusi yang sangat minim.
Jika interaksi pendidik dan peserta didik berjalan dengan baik, tidak hanya interaksi itu terbangun karena ada perkuliahan. Maka, pencegahan tawuran sejak dini dapat dilakukan oleh para pendidik. Penyadaran terhadap peserta didik dapat dilakukan secara kekeluargaan tanpa harus melibatkan banyak pihak.
Kebijakan Birokrasi
Peran birokrasi kampus sangat diharapkan untuk mencari solusi mandeknya diskusi ini. Kebijakan birokrasi sebaiknya memperbanyak ruang-ruang diskusi antara pendidik dan peserta didik serta diskusi sesama peserta didik. Sehingga hubungan emosional keduanya dapat terbangun dengan baik. Jika pola interaksi ini dapat ditingkatkan, maka pendidik sebagai sosok penutan bagi peserta didik, bukan lagi pendidik sebagai sosok yang disegani oleh peserta didik dapat diwujud.
Langkah birokrasi kampus yang membatasi ruang lembaga kemahasiswaan merupakan langkah yang salah. Ini justru semakin mengurangi ruang-ruang diskusi baik antar peserta didik maupun antar pendidik dan peserta didik.
Seharusnya lembaga kemahasiswaan diperkuat terutama ditingkat universitas. Kegiatan-kegiatan lembaga kemahasiswaa ditingkat universitas lebih ditingkatkan, sehingga interaksi antar fakultas dapat lebih banyak, ruang-ruang diskusi antar peserta didik bisa lebih sering, pendidik lebih mudah berinteraksi dengan peserta didik dengan adanya lembaga kemahasiswaan.
Harapan kedepan, kita tidak ingin melihat lagi tawuran dikalangan pelajar. Oleh karena itu, peran semua pihak sangat diperlukan, terutama peran pendidik yang menjadi tokoh penting dalam pencegahan tawuran dan langkah-langkah kebijakan birokrasi kampus harus lebih tepat dalam penanganan tawuran.
Tawuran sudah cukup merasahkan dan membuat malu dunia pendidikan. Sudah saatnya kita semua ambil bagian dalam mencari solusinya, tidak hanya geleng-geleng kepala atau hanya menundukkan kepala setiap tawuran terjadi.
dimuat di koran Tribun Timur, 16 oktober 2012

Posting Komentar