Belajar Dari Pilkada DKI Jakarta

Senin, 11 Maret 20130 komentar

Tribun Timur, 7 November 2012

 Tidak elok membandingkan suatu daerah dengan daerah lain. Apa lagi membandingkan Sulsel dengan Jakarta. Adanya banyak hal yang membedakan masing-masing daerah, mulai dari topografi wilayah, kultur budaya, karakter penduduk hingga kondisi ekonomi. Sehingga permasalahan yang dihadapi setiap daerah itu berbeda. Penyelesaian masalah di masing-masing daerah juga berbeda-beda.


Melihat keberhasilan DKI Jakarta melaksanakan pilkada dengan damai di tengah permasalahannya tidak ada salahnya kita belajar dari suksesnya pilkada DKI Jakarta. Ada beberapa hal dari perhelatan demokrasi di tanah betawi ini yang bisa kita pelajari dalam menyambut pesta demokrasi di Sulsel.

Kesadaran dan kedewasaan penduduk Jakarta dalam berdemokrasi patut jadi contoh daerah-daerah lain khususnya di Sulsel. Bagaimana panasnya suasana jelang pilgub putaran ke-2 Jakarta, hingga melibatkan raja dangdut Rhoma Irama ikut terseret ke dalam pusaran pertarungan politik. Namun, itu semua tak ada arti setelah pemenang hasil pilkada DKI Jakarta diumumkan. Semua pihak menerima dan menjadikannya sebagai kemenangan bersama, kemenangan Jakarta menuju yang lebih baik.  

Kedewasaan berdemokrasi juga diperlihatkan oleh para kandidat yang bertarung dalam pilkada DKI Jakarta. Bagaimana pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli  kandidat terkuat yang juga incumbent dalam pilkada DKI Jakarta, berbesar hati menerima hasil perhitungan cepat yang dilakukan beberapa lembaga survei, tidak menunggu hasil rekapitulasi KPUD Jakarta, Fausi Bowo langsung mengucapkan selamat kepada pasangan Joko Widodo - Basuki Tjahaja Purnama. Joko Widodo menyambut ucapan selamat Fauzi Bowo dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan selama kampanye sekaligus meminta bantuan Fauzi Bowo dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan Jakarta.

Apa yang diperlihatkan kedua pasang kandidat dalam menyikapi hasil pilkada DKI Jakarta, merupakan hal positif dalam perkembangan demokrasi di Indonesia. Dimana pilkada merupakan sebuah proses kompetisi dalam memilih pemimpin yang terbaik. Layaknya sebuah kompetisi, dalam prosesnya akan ditemukan persaingan baik secara wajar maupun tidak wajar, persinggungan dan saling sindir antar kandidat tidak bisa terelakkan. Namun, setelah hasilnya diketahui semua pihak dapat menerima dan saling mendukung untuk memajukan DKI Jakarta.

Hal menarik dari pilkada DKI Jakarta, isu suku, agama dan ras (SARA) yang selama ini menjadi senjata untuk mendonkrak suara tidak berfungsi dan tidak membawa pengaruh signifikan dalam perolehan suara. Sama halnya dengan dukungan partai politik (parpol) seakan tidak membawa pengaruh yang berarti. Partai politik hanya sebagai sarana atau jalan untuk mencalonkan diri selanjutnya rakyat sebagai penentu siapa yang pantas menjadi pemimpinnya.

Jakarta sudah membuktikan bisa melaksanakan pilkada yang damai dan demokratis, tidak terjebak dalam isu suku, agama dan ras. Masyarakat memilih kepala daerah yang dinilai visi dan misinya bisa memberikan solusi atas masalah yang ada Jakarta. Kemacetan, banjir dan pemerataan kesejahteran menjadi masalah utama Jakarta. Visi dan misi pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dinilai masyarakat Jakarta bisa memberikan harapan untuk mengeluarkan Jakarta dari masalahnya.

Pilkada Sulsel

KPUD Sulsel sudah menetapkan tiga pasangan Calon Gubernur (cagub) dan Calon Wakil Gubernur (cawagub) Sulsel  yang berkompetisi dalam pilkada Sulsel 2013. Tiga pasangan cagub dan cawagub yaitu Ilham Arief Sirajuddin-Abd. Aziz Qahhar Mudzakkar (IA), Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang), dan Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir Pasinringi (Garuda-Na).

Ketiga pasangan cagub dan cawagub Sulsel 2013, bukanlah wajah baru  Sulawesi Selatan. Jejak kepemimpinan Calon Gubernur Sulsel 2013 sudah tidak diragukan lagi, Ilham Arief Sirajuddin dua periode menjabat walikota Makassar, Syahrul Yasin Limpo pernah menjabat dua periode sebagai bupati kab. Gowa dan sekarang menjabat Gubernur Sulsel periode 2007-2012, dan  Andi Rudiyanto Asapa menjabat sebagai bupati kab. Sinjai selama dua periode mulai 2003 hingga sekarang.

Sedangkan Calon Wakil Gubernur Sulsel 2013 juga tidak perlu diragukan, Abd. Azis Qahhar Mudsakkar adalah anggota DPD RI dari Sulsel, Agus Arifin Nu’mang pernah menjadi anggota DPRD Sulsel selama dua periode yang sekarang menjabat Wakil Gubenur Sulsel 2007-2012, dan Andi Nawir Pasinringi merupakan mantan bupati Pinrang dua periode yang sekarang sebagai anggota DPRD Sulsel.   

Melihat track record ketiga pasangan, maka layak ketiga pasangan mengajukan diri untuk maju berkompetisi dalam pilkada Sulsel 2013. Pengalaman memimpin, penghargaan yang banyak dan jenjang karir yang mendukung menjadi modal awal untuk meraut dukungan masyarakat. Namun, itu belum cukup dalam memajukan Sulawesi Selatan.

Ada banyak permasalahan di Sulawesi selatan, pemerataan pembangunan, kemiskinan, peningkatan kesejahteran masyarakat, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), korupsi, pemenuhan hak-hak dasar masyarakat, kebebasan beragama dan masih banyak permasalahan lainnya menanti Gubernur dan Wakil Gubernur yang baru.  

Rentetang permasalahan di atas harus dipecahkan dan dicarikan solusinya oleh para kandidat. Jika belum siap dengan semua permasalahan yang akan dibebankan kepadanya, sebaiknya para kandidat mengundurkan diri lebih awal.

Masyarakat Sulsel tidak butuh penghargaan yang banyak, masyarakat butuh pemimpin yang bisa mensejahterakanya, mengeluarkanya dari kemiskinan, dan pemimpin yang bisa memenuhi hak-hak dasar masyarakatnya.

Pengalaman dan jenjang karir yang bagus tidak ada gunanya jika tidak bisa memberikan solusi yang tepat bagi Sulawesi Selatan untuk keluar dari permasalahan yang ada.   

Terkait dengan hal tersebut, penulis mangajak kepada seluruh masyarakat untuk mempelajari visi dan misi para kandidat, jangan terlena dengan janji-janji dan orasi politik yang disampaikan saat kampanye.

Dengan mempelajari visi dan misi para kandidat, masyarakat akan mendapat gambaran, langkah-langkah  dan solusi yang akan dilakukan para kandidat ke depan dalam memajukan Sulawesi Selatan.   

Jika ingin melihat perubahan besar di Sulawesi Selatan, maka mulailah dari hal-hal kecil dengan menjadi pemilih yang cerdas, pelajari visi dan misi para cagub dan cawagub Sulsel 2013 merupakan langkah awal jadi pemilih cerdas.

Diakhir tulisan penulis ingin melemparkan pertanyaan, sekaligus kesimpulan dari tulisan ini. Siapakah pemimpin yang bisa memajukan Sulawesi Selatan? Siapakah pemimpin yang bisa memberikan solusi atas permasalahan Sulawesi Selatan? Bagaimana nasib Sulawesi Selatan lima tahun ke depan?. Jawabnya ada ditangan Anda. Jadilah pemilih yang cerdas dengan mempelajari visi dan misi para kandidat. Pilihan Anda penentu nasib Sulawesi Selatan lima tahun kedepan. Silahkan menetukan pilihan. 

dimuat di koran Tribun Timur, 7 November 2012

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ruang Waktu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger