![]() |
| Tribun Timur, 7 November 2012 |
Tidak elok membandingkan suatu daerah dengan
daerah lain. Apa lagi membandingkan Sulsel dengan Jakarta. Adanya banyak hal
yang membedakan masing-masing daerah, mulai dari topografi wilayah, kultur
budaya, karakter penduduk hingga kondisi ekonomi. Sehingga permasalahan yang
dihadapi setiap daerah itu berbeda. Penyelesaian masalah di masing-masing
daerah juga berbeda-beda.
Melihat keberhasilan DKI Jakarta melaksanakan
pilkada dengan damai di tengah permasalahannya tidak ada salahnya kita belajar
dari suksesnya pilkada DKI Jakarta. Ada beberapa hal dari perhelatan demokrasi
di tanah betawi ini yang bisa kita pelajari dalam menyambut pesta demokrasi di
Sulsel.
Kesadaran dan kedewasaan penduduk Jakarta
dalam berdemokrasi patut jadi contoh daerah-daerah lain khususnya di Sulsel. Bagaimana
panasnya suasana jelang pilgub putaran ke-2 Jakarta, hingga melibatkan raja
dangdut Rhoma Irama ikut terseret ke dalam pusaran pertarungan politik. Namun,
itu semua tak ada arti setelah pemenang hasil pilkada DKI Jakarta diumumkan.
Semua pihak menerima dan menjadikannya sebagai kemenangan bersama, kemenangan
Jakarta menuju yang lebih baik.
Kedewasaan berdemokrasi juga diperlihatkan
oleh para kandidat yang bertarung dalam pilkada DKI Jakarta. Bagaimana pasangan
Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli kandidat
terkuat yang juga incumbent dalam pilkada DKI Jakarta, berbesar hati menerima
hasil perhitungan cepat yang dilakukan beberapa lembaga survei, tidak menunggu
hasil rekapitulasi KPUD Jakarta, Fausi Bowo langsung mengucapkan selamat kepada
pasangan Joko Widodo - Basuki Tjahaja Purnama. Joko Widodo menyambut ucapan
selamat Fauzi Bowo dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan selama kampanye
sekaligus meminta bantuan Fauzi Bowo dalam menyelesaikan
permasalahan-permasalahan Jakarta.
Apa yang diperlihatkan kedua pasang kandidat
dalam menyikapi hasil pilkada DKI Jakarta, merupakan hal positif dalam
perkembangan demokrasi di Indonesia. Dimana pilkada merupakan sebuah proses kompetisi
dalam memilih pemimpin yang terbaik. Layaknya sebuah kompetisi, dalam prosesnya
akan ditemukan persaingan baik secara wajar maupun tidak wajar, persinggungan
dan saling sindir antar kandidat tidak bisa terelakkan. Namun, setelah hasilnya
diketahui semua pihak dapat menerima dan saling mendukung untuk memajukan DKI
Jakarta.
Hal menarik dari pilkada DKI Jakarta, isu
suku, agama dan ras (SARA) yang selama ini menjadi senjata untuk mendonkrak
suara tidak berfungsi dan tidak membawa pengaruh signifikan dalam perolehan
suara. Sama halnya dengan dukungan partai politik (parpol) seakan tidak membawa
pengaruh yang berarti. Partai politik hanya sebagai sarana atau jalan untuk
mencalonkan diri selanjutnya rakyat sebagai penentu siapa yang pantas menjadi
pemimpinnya.
Jakarta sudah membuktikan bisa melaksanakan
pilkada yang damai dan demokratis, tidak terjebak dalam isu suku, agama dan
ras. Masyarakat memilih kepala daerah yang dinilai visi dan misinya bisa
memberikan solusi atas masalah yang ada Jakarta. Kemacetan, banjir dan
pemerataan kesejahteran menjadi masalah utama Jakarta. Visi dan misi pasangan
Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dinilai masyarakat Jakarta bisa memberikan
harapan untuk mengeluarkan Jakarta dari masalahnya.
Pilkada Sulsel
KPUD Sulsel sudah menetapkan tiga pasangan
Calon Gubernur (cagub) dan Calon Wakil Gubernur (cawagub) Sulsel yang berkompetisi dalam pilkada Sulsel 2013.
Tiga pasangan cagub dan cawagub yaitu Ilham Arief Sirajuddin-Abd. Aziz Qahhar
Mudzakkar (IA), Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang (Sayang), dan Andi
Rudiyanto Asapa-Andi Nawir Pasinringi (Garuda-Na).
Ketiga pasangan cagub dan cawagub Sulsel 2013,
bukanlah wajah baru Sulawesi Selatan. Jejak
kepemimpinan Calon Gubernur Sulsel 2013 sudah tidak diragukan lagi, Ilham Arief
Sirajuddin dua periode menjabat walikota Makassar, Syahrul Yasin Limpo pernah
menjabat dua periode sebagai bupati kab. Gowa dan sekarang menjabat Gubernur
Sulsel periode 2007-2012, dan Andi
Rudiyanto Asapa menjabat sebagai bupati kab. Sinjai selama dua periode mulai
2003 hingga sekarang.
Sedangkan Calon Wakil Gubernur Sulsel 2013
juga tidak perlu diragukan, Abd. Azis Qahhar Mudsakkar adalah anggota DPD RI
dari Sulsel, Agus Arifin Nu’mang pernah menjadi anggota DPRD Sulsel selama dua
periode yang sekarang menjabat Wakil Gubenur Sulsel 2007-2012, dan Andi Nawir
Pasinringi merupakan mantan bupati Pinrang dua periode yang sekarang sebagai
anggota DPRD Sulsel.
Melihat track record ketiga pasangan, maka
layak ketiga pasangan mengajukan diri untuk maju berkompetisi dalam pilkada
Sulsel 2013. Pengalaman memimpin, penghargaan yang banyak dan jenjang karir
yang mendukung menjadi modal awal untuk meraut dukungan masyarakat. Namun, itu
belum cukup dalam memajukan Sulawesi Selatan.
Ada banyak permasalahan di Sulawesi selatan,
pemerataan pembangunan, kemiskinan, peningkatan kesejahteran masyarakat,
peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), korupsi, pemenuhan hak-hak dasar masyarakat,
kebebasan beragama dan masih banyak permasalahan lainnya menanti Gubernur dan
Wakil Gubernur yang baru.
Rentetang permasalahan di atas harus
dipecahkan dan dicarikan solusinya oleh para kandidat. Jika belum siap dengan
semua permasalahan yang akan dibebankan kepadanya, sebaiknya para kandidat
mengundurkan diri lebih awal.
Masyarakat Sulsel tidak butuh penghargaan yang
banyak, masyarakat butuh pemimpin yang bisa mensejahterakanya, mengeluarkanya
dari kemiskinan, dan pemimpin yang bisa memenuhi hak-hak dasar masyarakatnya.
Pengalaman dan jenjang karir yang bagus tidak
ada gunanya jika tidak bisa memberikan solusi yang tepat bagi Sulawesi Selatan
untuk keluar dari permasalahan yang ada.
Terkait dengan hal tersebut, penulis mangajak
kepada seluruh masyarakat untuk mempelajari visi dan misi para kandidat, jangan
terlena dengan janji-janji dan orasi politik yang disampaikan saat kampanye.
Dengan mempelajari visi dan misi para kandidat,
masyarakat akan mendapat gambaran, langkah-langkah dan solusi yang akan dilakukan para kandidat
ke depan dalam memajukan Sulawesi Selatan.
Jika ingin melihat perubahan besar di Sulawesi
Selatan, maka mulailah dari hal-hal kecil dengan menjadi pemilih yang cerdas,
pelajari visi dan misi para cagub dan cawagub Sulsel 2013 merupakan langkah
awal jadi pemilih cerdas.
dimuat di koran Tribun Timur, 7 November 2012

Posting Komentar