Pemimpin Jalur Selebritis

Senin, 11 Maret 20130 komentar

Tribun Timur, 12 November 2012
Sudah sunnatullah bahwa setiap manusia akan menjadi pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Ini menunjukkan setiap manusia punya potensi yang sama untuk menjadi seorang pemimpin, tinggal bagaimana usaha manusia itu menggali, menumbuhkan dan mengembangkan potensi itu sehingga berkompoten menjadi seorang pemimpin.  


Pemilihan pemimpin secara langsung membuka kesempatan setiap warga negara untuk berpartsipasi dan meramaikan pemilihan kepala daerah. Semua warga negara memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi pemimpin. Asal punya modal dan mendapat dukungan politik.  Tidak terkecuali selebritis-selebritis yang sering kita jumpai di layar TV lewat perannya di dunia hiburan tanah air.

Sudah banyak selebritis-selebritis dari dunia hiburan yang ikut dalam perhelatan pemilihan kepala dearah. Sebut saja Rana Karno (pilkada Tangerang), Nurul Qomar (pilkada Indramayu), Zumi Sola (pilkada Tanjung Jabung Timur), Diky Chandra (pilkada Garut), Andreas Taulany (pilkada Tengerang Selatan), Dery Drajat (pilkada Depok) dan Dede Yusuf, Rieke Dyah Pitaloka, Deddy Mizwar ketiganya akan berlaga pada pilgub Jawa Barat 2013. 


Walaupun tidak semuanya berhasil menang dalam pilkada, namun kepopuleran para selebritis di dunia hiburan memiliki kekuatan tersendiri untuk meraup suara masyarakat. Dengan modal popularitas para selebritis menjadi incaran partai politik untuk dipinang sebagai calon kepala daerah. 

Pilgub Jawa Barat 2013 menjadi contoh bagaimana popularitas selebritis sangat diminati partai politik sebagai pendulang suara. Hampir tidak ada tes kelayakan yang dilakukan partai politik dalam menentukan calon kepala daerahnya. Tingkat pengetahuan bernegara, pengalaman mengorganisir, kecakapan mengelola pemerintahan, keadaan emosional dalam menyelesaikan masalah semuanya itu dikesampingkan.

Wujud Kegagalan Parpol 

Fenomena banyaknya selebritis diusung parpol menjadi calon pemimpin suatu daerah buah dari kegagalan parpol dalam menjalankan fungsinya. Parpol yang seharusnya menjadi tempat inkubasi pertama lahirnya calon-calon pemimpin tidak jalan. Proses kaderisasi parpol yang lamban dan mandek, rekrutmen parpol yang tidak jelas, kompetisi internal parpol yang tidak demokrastis berdampak parpol tidak percaya diri untuk mengusung kadernya untuk terlibat dalam pemilihan kepala daerah. Artinya parpol gagal melahirkan kader yang diperhitungkan untuk bertarung dalam pemilihan-pemilihan kepala daerah dengan membawa ideologi partai. Sehingga dalam menentukan calon pemimpin yang akan diusung partai syarat dengan kepentingan, tergantung kemampuan finansial serta popularitas calon pemimpin.  

Citra buruk parpol yang disebabkan perilaku korupsi kader-kadernya berdampak turunnya kepercayaan publik kepada parpol. Dalam jajak pendapat Kompas (19/3/2012) terkait citra parpol diperoleh sebanyak 80,4 % publik menilai citra parpol buruk, hal ini sejalan dengan tingkat ketidakpercayaan publik kepada parpol yakni 70,9% dan tingkat kepuasaan publik terhadap kinerja parpol yang menurun  pada angka 7,3%.

Buruknya citra parpol dimata publik akan berdampak pada perolehan suara parpol dalam pilkada. Untuk menaikkan citra parpol, maka parpol berlomba-lomba mencari sosok figur yang bisa mengembalikan kepercayaan publik terhadap parpol. Maka salah satu cara adalah mencari sosok figur dari kalangan selebritis yang sudah dikenal masyarakat luas. Mendulang suara dibalik popularitas selebritis merupakan bentuk pragmatisme parpol dalam berpolitik. Dengan modal popularitas calon dari kalangan selebritis diharapkan mampu mendapatkan kemenangan pragmatis dalam pilkada. 

Krisis Kepemimpinan

Terlibatnya beberapa selebritis dalam perhelatan pemilihan kepala daerah bukanlah hal yang salah. Hal ini merupakan konsekuensi demokrasi, dalam demokrasi setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam berpolitik termasuk ikut maju dalam pencalonan sebagai kepala daerah.  

Namun, perlu diingat untuk menjadi seorang pemimpin ada empat hal yang harus dimiliki seorang pemimpin berdasarkan standar kriteria yang telah berlaku secara universal yaitu integritas, kapabilitas, visi dan popularitas. Jika keempat kriteria ini sudah dimiliki, maka layaklah seseorang untuk memberanikan diri untuk siap menerima amanah menjadi pemimpin suatu daerah atau memimpin masyarakat. 

Banyaknya persoalan bangsa yang tidak terselesaikan, banyaknya kasus-kasus menjerat para pemimpin, kurangnya pemimpin yang berkarakter dan mandeknya kaderisasi parpol. Membuat bangsa ini mengalami krisis kepemimpinan. Hal ini diperparah turunnya kepercayaan masyarakat terhadap adanya pemimpin yang mampu mengatasi persoalan bangsa. Seperti yang dilangsir Kompas beberapa bulan yang lalu sebayak 32,4 % masyarakat menilai tidak ada sosok pemimpin yang mampu mengatasi persoalan bangsa dan 28,1 % menyatakan tidak tahu (3/9/2012). 

Di tengah krisis kepemimpinan bangsa dan ditambah sikap apatis masyarakat terhadap sosok pemimpin yang disebabkan ketidakpuasan terhadap kinerja pemimpin. Menggiring masyarakat untuk memilih pemimpin yang cukup populer diperbincangkan dan sering muncul di ruang-ruang publik. Tanpa memperdulikan lagi apa pemimpin yang akan dipilihnya memiliki integritas, mempunyai kapabilitas dan bagaimana visinya kedepan. 

Di awal tulisan telah dijelaskan setiap menusia akan menjadi pemimpin dan itu sudah menjadi sunnatullah. Dan demokrasi membuka ruang lebar untuk mewujudkan itu, setiap warga negara punya peluang dan kesempatan yang sama termaksud selebritis dari dunia hiburan tanah air. Tapi perlu disadari menjadi pemimpin bukanlah suatu peran utama dalam sebuah sinetron atau film yang alur ceritanya berdasarkan skenario sutradara. Dimana kawan, lawan, konflik, dan masalah yang dihadapi sudah diketahui. Setidaknya para selebritis mengambil pelajaran dari Diky Chandra yang mengundurkan diri dari wakil bupati Garut. 

Setiap orang berkeinginan berbuat dan memberikan yang terbaik untuk daerahnya. Namun, itu harus didukung dengan kapasitas yang dimiliki. Menjadi pemimpin adalah sebuah amanah yang akan diminta pertangungjawabannya. 

Semoga langkah yang diambil para selebritis-selebritis dengan terlibat dalam beberapa pemilihan kepala daerah merupakan langkah yang tepat. Sebagai pembuktian bahwa di dunia nyata dia mampu memainkan peran utama dengan baik, sama baiknya dalam memainkan peran utama di dunia hiburan. Dan semoga saja para selebritis tidak menjadikan pemilihan kepala daerah hanya sebatas panggung sandiwara untuk menaikkan popularitas. 

dimuat di koran Tribun Timur, 12 November 2012
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ruang Waktu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger