![]() |
| Tribun Timur, 12 November 2012 |
Sudah sunnatullah bahwa setiap manusia akan menjadi
pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Ini
menunjukkan setiap manusia punya potensi yang sama untuk menjadi seorang
pemimpin, tinggal bagaimana usaha manusia itu menggali, menumbuhkan dan mengembangkan
potensi itu sehingga berkompoten menjadi seorang pemimpin.
Pemilihan pemimpin secara langsung membuka kesempatan setiap
warga negara untuk berpartsipasi dan meramaikan pemilihan kepala daerah. Semua
warga negara memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi pemimpin. Asal
punya modal dan mendapat dukungan politik.
Tidak terkecuali selebritis-selebritis yang sering kita jumpai di layar
TV lewat perannya di dunia hiburan tanah air.
Sudah banyak selebritis-selebritis dari dunia hiburan
yang ikut dalam perhelatan pemilihan kepala dearah. Sebut saja Rana Karno (pilkada
Tangerang), Nurul Qomar (pilkada Indramayu), Zumi Sola (pilkada Tanjung Jabung
Timur), Diky Chandra (pilkada Garut), Andreas Taulany (pilkada Tengerang
Selatan), Dery Drajat (pilkada Depok) dan Dede Yusuf, Rieke Dyah Pitaloka, Deddy
Mizwar ketiganya akan berlaga pada pilgub Jawa Barat 2013.
Walaupun tidak semuanya berhasil menang dalam pilkada, namun
kepopuleran para selebritis di dunia hiburan memiliki kekuatan tersendiri untuk
meraup suara masyarakat. Dengan modal popularitas para selebritis menjadi
incaran partai politik untuk dipinang sebagai calon kepala daerah.
Pilgub Jawa Barat 2013 menjadi contoh bagaimana
popularitas selebritis sangat diminati partai politik sebagai pendulang suara. Hampir
tidak ada tes kelayakan yang dilakukan partai politik dalam menentukan calon
kepala daerahnya. Tingkat pengetahuan bernegara, pengalaman mengorganisir, kecakapan
mengelola pemerintahan, keadaan emosional dalam menyelesaikan masalah semuanya
itu dikesampingkan.
Wujud Kegagalan Parpol
Fenomena banyaknya selebritis diusung parpol menjadi
calon pemimpin suatu daerah buah dari kegagalan parpol dalam menjalankan
fungsinya. Parpol yang seharusnya menjadi tempat inkubasi pertama lahirnya
calon-calon pemimpin tidak jalan. Proses kaderisasi parpol yang lamban dan
mandek, rekrutmen parpol yang tidak jelas, kompetisi internal parpol yang tidak
demokrastis berdampak parpol tidak percaya diri untuk mengusung kadernya untuk
terlibat dalam pemilihan kepala daerah. Artinya parpol gagal melahirkan kader
yang diperhitungkan untuk bertarung dalam pemilihan-pemilihan kepala daerah
dengan membawa ideologi partai. Sehingga dalam menentukan calon pemimpin yang
akan diusung partai syarat dengan kepentingan, tergantung kemampuan finansial
serta popularitas calon pemimpin.
Citra buruk parpol yang disebabkan perilaku korupsi
kader-kadernya berdampak turunnya kepercayaan publik kepada parpol. Dalam jajak
pendapat Kompas (19/3/2012) terkait citra parpol diperoleh sebanyak 80,4 %
publik menilai citra parpol buruk, hal ini sejalan dengan tingkat
ketidakpercayaan publik kepada parpol yakni 70,9% dan tingkat kepuasaan publik
terhadap kinerja parpol yang menurun pada angka 7,3%.
Buruknya citra parpol dimata publik akan berdampak pada
perolehan suara parpol dalam pilkada. Untuk menaikkan citra parpol, maka parpol
berlomba-lomba mencari sosok figur yang bisa mengembalikan kepercayaan publik
terhadap parpol. Maka salah satu cara adalah mencari sosok figur dari kalangan
selebritis yang sudah dikenal masyarakat luas. Mendulang suara dibalik
popularitas selebritis merupakan bentuk pragmatisme parpol dalam berpolitik.
Dengan modal popularitas calon dari kalangan selebritis diharapkan mampu
mendapatkan kemenangan pragmatis dalam pilkada.
Krisis Kepemimpinan
Terlibatnya beberapa selebritis dalam perhelatan pemilihan
kepala daerah bukanlah hal yang salah. Hal ini merupakan konsekuensi demokrasi,
dalam demokrasi setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam berpolitik
termasuk ikut maju dalam pencalonan sebagai kepala daerah.
Namun, perlu diingat untuk menjadi seorang pemimpin ada
empat hal yang harus dimiliki seorang pemimpin berdasarkan standar kriteria
yang telah berlaku secara universal yaitu integritas, kapabilitas, visi dan
popularitas. Jika keempat kriteria ini sudah dimiliki, maka layaklah seseorang
untuk memberanikan diri untuk siap menerima amanah menjadi pemimpin suatu
daerah atau memimpin masyarakat.
Banyaknya persoalan bangsa yang tidak terselesaikan,
banyaknya kasus-kasus menjerat para pemimpin, kurangnya pemimpin yang
berkarakter dan mandeknya kaderisasi parpol. Membuat bangsa ini mengalami
krisis kepemimpinan. Hal ini diperparah turunnya kepercayaan masyarakat
terhadap adanya pemimpin yang mampu mengatasi persoalan bangsa. Seperti yang
dilangsir Kompas beberapa bulan yang lalu sebayak 32,4 % masyarakat menilai
tidak ada sosok pemimpin yang mampu mengatasi persoalan bangsa dan 28,1 %
menyatakan tidak tahu (3/9/2012).
Di tengah krisis kepemimpinan bangsa dan ditambah sikap
apatis masyarakat terhadap sosok pemimpin yang disebabkan ketidakpuasan
terhadap kinerja pemimpin. Menggiring masyarakat untuk memilih pemimpin yang
cukup populer diperbincangkan dan sering muncul di ruang-ruang publik. Tanpa
memperdulikan lagi apa pemimpin yang akan dipilihnya memiliki integritas, mempunyai
kapabilitas dan bagaimana visinya kedepan.
Di awal tulisan telah dijelaskan setiap menusia akan
menjadi pemimpin dan itu sudah menjadi sunnatullah. Dan demokrasi membuka ruang
lebar untuk mewujudkan itu, setiap warga negara punya peluang dan kesempatan
yang sama termaksud selebritis dari dunia hiburan tanah air. Tapi perlu disadari
menjadi pemimpin bukanlah suatu peran utama dalam sebuah sinetron atau film
yang alur ceritanya berdasarkan skenario sutradara. Dimana kawan, lawan,
konflik, dan masalah yang dihadapi sudah diketahui. Setidaknya para selebritis
mengambil pelajaran dari Diky Chandra yang mengundurkan diri dari wakil bupati
Garut.
Setiap
orang berkeinginan berbuat dan memberikan yang terbaik untuk daerahnya. Namun,
itu harus didukung dengan kapasitas yang
dimiliki. Menjadi pemimpin adalah sebuah amanah yang akan diminta
pertangungjawabannya.
Semoga
langkah yang diambil para selebritis-selebritis dengan terlibat dalam beberapa
pemilihan kepala daerah merupakan langkah yang tepat. Sebagai pembuktian bahwa
di dunia nyata dia mampu memainkan peran utama dengan baik, sama baiknya dalam
memainkan peran utama di dunia hiburan. Dan semoga saja para selebritis tidak menjadikan pemilihan kepala daerah hanya
sebatas panggung sandiwara untuk menaikkan popularitas.
dimuat di koran Tribun Timur, 12 November 2012

Posting Komentar