Empat Maret Penuh Rasa Syukur

Rabu, 13 Maret 20130 komentar


Aku adalah jutaan sel sperma bapak yang berhasil menembus sel telur ibu, aku yang tercepat dari saudara-saudaraku, aku yang terseleksi secara alam, aku yang terpilih untuk menikmati keindahan dan keburukan dunia, aku yang dipercaya menerima amanah. 

Sembilan bulan lamanya, aku dierami dalam kandungan, asupan giziku dipenuhi, aku diselimuti kulit terhalus di dunia, dilindungi dari binatang-binatang  yang lapar, aku dibawah kemana-kemana, bahkan ke kamar kecilpun aku tak pernah ditinggal. Tak sedikitpun aku dikeluhkan, walau aku terkadang merontah membuat wajah ibu berkerut. Tapi, ibu hanya mengelusku dengan jemarinya sambil menahan rasa sakit.


Aku sangat disayang, buktinya ibu rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk memperkanalkan sesak dunia. Nyayian kematian bersenandung  disetiap hembusan nafas, malaikat maut menari-nari di ujung urat nadi yang bisa saja terpeleset dan memutuskannya. Tapi, itu semua tidak dihiraukan, hanya ada satu dalam benak ibu, aku bisa menghirup udara pagi. Hidup dan mati adalah pilihan diantara kami, pilihan diantara dua insan yang belum saling menyapa, tentu saja kami tidak berharap pilihan yang kedua. 

Makasih ibu, atas pejuanganmu aku bisa menikmati udara pagi, menikmati lantunan adzan subuh pada  tanggal dan bulan yang sama ketika jeritan pertamaku memacah senyum ayahku yang gelisah menunggu sebuah harapan yang terlahir dari putra bungsunya. Walau, dalam hatinya ada setitik kecewa karena aku terlahir sebagai kaum adam. Iya,,,, yang dia harap, anaknya kali ini adalah seorang bidadari kecil sebagai pelengkap kerajaan yang dibangun bersama permaisuri dambaan hatinya. Tapi, tak sedikitpun kekecewaan itu dia nampakkan disaat mengganti popok yang sudah aku basahi dengan air seni. 

Iya,,,,,tanggal ini adalah tanggal yang sama ketika hembusan nafas ibu memaksa aku merasakan aroma dunia, bulan ini adalah bulan yang sama ketika jerit kesakitan ibu, ajarkan aku menghadapi licik dunia. Itu dua puluh empat tahun yang lalu ketika suara adzan dikumandangkan di teligaku  sebagai ritual yang dilakukan seorang bapak dalam menyambut kehangatan buah hatinya.  

Akhirnya, 4 maret 1987  dideklarasikan sebagai tanggal lahir Muhammad Iqbal Arsyad di kota kecil dibagian barat pulau Sulawesi. Putra kedelapan buah kesetiaan dari pasangan Alm. Muh. Arsyad Halid dengan Alm. St. Nurmi. 

Aku tumbuh dari belaian kasih sayang kedua orang tuaku, wujud dari cintanya tersaji dalam senyum indah sang mentari pagi, berjalan mengikuti jejak-jejak pasir putih sebagai rute yang diciptakan untuk aku didalam menjalani kehidupan, sedikit saja aku lengah jejak-jejak pasir putih itu akan tersapu rata oleh ombak yang berkejaran di bibir pantai. 

Walau waktumu singkat menemaniku di dunia ini, karena jatah umur yang Tuhan berikan kepadamu sudah tiba pada waktunya. Namun, kasih sayangmu tak pernah berhenti bagai udara yang tiap pagi menjadi sarapan pagiku. Kasih sayangmu telah mendewasakan aku, memberi senyum pada wajahku, memberi damai dalam hidupku, memberi tawa dalam candaku, memberi air mata dalam bahagiaku, memberi lesum pada senyumku, membari akur dalam bersaudara, memberi harga dalam diri. 

Selama 24 tahun, kau beri aku arti dalam hidup, kau beri aku udara dalam nafas, kau beri aku air dalam tangis, kau beri aku bahagia dalam sakit, kau beri aku reski dalam doa, kau beri cinta dalam derita, kau ajarkan syukur, kau ajarkan damai, kau ajarkan berbagi, kau ajarkan setia, kau ajarkan sakit, kau ajarkan senyum. 

Aku sadar, amanah yang kau berikan belum sepenuhnya aku lakukan di usiaku 24 tahun ini. Tapi, selama tubuh ini diberi azin menghirup udara pagi esok hari, mewujudkan itu semua bukan suatu yang mustahil. Karena aku yakin kau akan selalu membimbingku dalam doa dan harapan. 

Aku tak dapat memandangmu dalam wujud karena mataku tak mampu menembus kebesaran Sang Khalid. Tapi, aku dapat rasakan hadirmu dalam diriku karena kasih sayangmu bersemayam dalam kalbuku. 
Terima kasih Tuhan,,,,,,
Kau lahirkan aku di rahim yang penuh kasih,,,
Terima kasih Tuhan,,,,,,,
Kau berikan orang tua yang penuh sayang,,,
Terima kasih Tuhan,,,,,
Kau besarkan aku di keluarga yang penuh cinta,,,
Terima kasih Tuhan,,,,,
Kau dewasakan aku di lingkungan yang penuh damai,,,
Terima kasih Tuhan,,,,
Akan usia yang Kau berikan....
Sembah syukur hambaMU
Atas kebesaranMU...  
                                                                                     
 Makassar, 04 Maret 2011
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ruang Waktu - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger