Aku
adalah jutaan sel sperma bapak yang berhasil menembus sel telur ibu, aku yang
tercepat dari saudara-saudaraku, aku yang terseleksi secara alam, aku yang
terpilih untuk menikmati keindahan dan keburukan dunia, aku yang dipercaya
menerima amanah.
Sembilan
bulan lamanya, aku dierami dalam kandungan, asupan giziku dipenuhi, aku
diselimuti kulit terhalus di dunia, dilindungi dari binatang-binatang yang lapar, aku dibawah kemana-kemana, bahkan
ke kamar kecilpun aku tak pernah ditinggal. Tak sedikitpun aku dikeluhkan,
walau aku terkadang merontah membuat wajah ibu berkerut. Tapi, ibu hanya
mengelusku dengan jemarinya sambil menahan rasa sakit.
Aku
sangat disayang, buktinya ibu rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk
memperkanalkan sesak dunia. Nyayian kematian bersenandung disetiap hembusan nafas, malaikat maut
menari-nari di ujung urat nadi yang bisa saja terpeleset dan memutuskannya.
Tapi, itu semua tidak dihiraukan, hanya ada satu dalam benak ibu, aku bisa
menghirup udara pagi. Hidup dan mati adalah pilihan diantara kami, pilihan
diantara dua insan yang belum saling menyapa, tentu saja kami tidak berharap
pilihan yang kedua.
Makasih
ibu, atas pejuanganmu aku bisa menikmati udara pagi, menikmati lantunan adzan
subuh pada tanggal dan bulan yang sama
ketika jeritan pertamaku memacah senyum ayahku yang gelisah menunggu sebuah
harapan yang terlahir dari putra bungsunya. Walau, dalam hatinya ada setitik
kecewa karena aku terlahir sebagai kaum adam. Iya,,,, yang dia harap, anaknya
kali ini adalah seorang bidadari kecil sebagai pelengkap kerajaan yang dibangun
bersama permaisuri dambaan hatinya. Tapi, tak sedikitpun kekecewaan itu dia
nampakkan disaat mengganti popok yang sudah aku basahi dengan air seni.
Iya,,,,,tanggal
ini adalah tanggal yang sama ketika hembusan nafas ibu memaksa aku merasakan
aroma dunia, bulan ini adalah bulan yang sama ketika jerit kesakitan ibu,
ajarkan aku menghadapi licik dunia. Itu dua puluh empat tahun yang lalu ketika
suara adzan dikumandangkan di teligaku
sebagai ritual yang dilakukan seorang bapak dalam menyambut kehangatan
buah hatinya.
Akhirnya,
4 maret 1987 dideklarasikan sebagai
tanggal lahir Muhammad Iqbal Arsyad di kota kecil dibagian barat pulau Sulawesi.
Putra kedelapan buah kesetiaan dari pasangan Alm. Muh. Arsyad Halid dengan Alm.
St. Nurmi.
Aku
tumbuh dari belaian kasih sayang kedua orang tuaku, wujud dari cintanya tersaji
dalam senyum indah sang mentari pagi, berjalan mengikuti jejak-jejak pasir
putih sebagai rute yang diciptakan untuk aku didalam menjalani kehidupan,
sedikit saja aku lengah jejak-jejak pasir putih itu akan tersapu rata oleh
ombak yang berkejaran di bibir pantai.
Walau
waktumu singkat menemaniku di dunia ini, karena jatah umur yang Tuhan berikan
kepadamu sudah tiba pada waktunya. Namun, kasih sayangmu tak pernah berhenti
bagai udara yang tiap pagi menjadi sarapan pagiku. Kasih sayangmu telah
mendewasakan aku, memberi senyum pada wajahku, memberi damai dalam hidupku,
memberi tawa dalam candaku, memberi air mata dalam bahagiaku, memberi lesum
pada senyumku, membari akur dalam bersaudara, memberi harga dalam diri.
Selama
24 tahun, kau beri aku arti dalam hidup, kau beri aku udara dalam nafas, kau
beri aku air dalam tangis, kau beri aku bahagia dalam sakit, kau beri aku reski
dalam doa, kau beri cinta dalam derita, kau ajarkan syukur, kau ajarkan damai,
kau ajarkan berbagi, kau ajarkan setia, kau ajarkan sakit, kau ajarkan senyum.
Aku
sadar, amanah yang kau berikan belum sepenuhnya aku lakukan di usiaku 24 tahun
ini. Tapi, selama tubuh ini diberi azin menghirup udara pagi esok hari,
mewujudkan itu semua bukan suatu yang mustahil. Karena aku yakin kau akan
selalu membimbingku dalam doa dan harapan.
Aku
tak dapat memandangmu dalam wujud karena mataku tak mampu menembus kebesaran
Sang Khalid. Tapi, aku dapat rasakan hadirmu dalam diriku karena kasih sayangmu
bersemayam dalam kalbuku.
Terima
kasih Tuhan,,,,,,
Kau
lahirkan aku di rahim yang penuh kasih,,,
Terima
kasih Tuhan,,,,,,,
Kau
berikan orang tua yang penuh sayang,,,
Terima
kasih Tuhan,,,,,
Kau
besarkan aku di keluarga yang penuh cinta,,,
Terima
kasih Tuhan,,,,,
Kau
dewasakan aku di lingkungan yang penuh damai,,,
Terima
kasih Tuhan,,,,
Akan
usia yang Kau berikan....
Sembah
syukur hambaMU
Atas
kebesaranMU...
Makassar, 04 Maret 2011

Posting Komentar