Kejadiannya berlangsung
tiba-tiba, batu melayang, saling serang dua sekolah bertetangga. Tak ada
yang tahu persis duduk perkaranya. Tawuran pecah, yang terdengar hanya teriakan
“serang”, yang terlihat hanya batu melayang dari dua sekolah. Setengah jam
berlangsung perang antar dua lembaga pendidikan ini berlangsung. Hasilnya 44
orang pelajar diamankan, 36 dari SMKN 2 Makassar dan 8 dari SMKN 3 Makassar
(tribun timur, 29/11/2013), hasilnya siswa diliburkan, hasilnya proses belajar
mengajar terganggu, hasilnya dunia pendidikan tercoreng, hasilnya masyarakat
resah.
Lagi-lagi penyebabnya jadi
misteri, pihak sekolah berdalih kami serahkan ke pihak yang berwajib, polisi
berdalih kami akan proses. Tapi, tawuran antar pelajar tidak pernah
terselasaikan, tiap tahun menghiasi pemberitaan di media, bagai banjir yang datang tiap tahun tapi tidak menuai
solusi penyelesaian.
Ditempat terpisah, tawuran antar
mahasiswa UNM beberapa pekan lalu penyidikannya terancam berakhir, tanpa hasil
(Fajar, 29/11/2013). Meski sudah ditetapkan satu tersangka, namun dasar
penetapannya tidak memiliki kaitan dengan kasus pembekaran kampus.
Pihak Polisi, Wakasat reskim
Polrestabes Kompol Gany Alamsyah mengatakan pihaknya tidak bisa melakukan
penangkapan dan penetapan tersangka, harus ada bukti yang laporan tertulis yang
diajukan olek pihak rektorat atau korban.
PR 3 UNM, Prof. Heri Tahir
membantah jika pihaknya sudah melaporkan kasus tersebut. Pihaknya justru
mempertanyakan kinerja kepolisian dalam pengusutan kasus itu.
Lagi-lagi tidak ada penyelasian,
hasilnya hanya kerusakan kampus, hasilnya hanya mahasiswa dilibur, hasilnya
proses belajar mengajar terganggu, hasilnya dunia pendidikan tercoreng,
hasilnya masyarakat resah, hasilnya pelajar Makassar mendapat tudingan suka
tawuran. Dan hasilnya tahun depan tawuran lagi. SEMOGA TIDAK……..
Makassar, 29 November 2013
Posting Komentar