Mobil sudah menjadi kebutuhan sebagian orang. Sebagian lagi,
mobil sebagai barang mewah, lambang kesuksesan. Setiap orang pasti ingin punya
mobil, bermimpi punya mobil adalah hal yang wajar. Kerata besi ini akan membuat
ruang gerak tidak terbatas.Tentu, terkacuali jika sedang macet
Jangan heran, jika pameran-pameran mobil tidak pernah sepi
pengunjung. Dari kolektor mobil hingga pengunjung yang hanya datang menelan
ludah. Mobil sejatinya sebagai alat tranportasi, memudahkan ruang gerak dalam
beraktifitas. Kini, mulai menjadi biang masalah, banyaknya produksi mobil
membuat kota-kota besar lumpuh. Justru, mobil menjadi biang kemacetan dan
menghambat ruang gerak dalam beraktifitas.
Mobil jadi soal, mobil yang tadinya solusi memudahkan
aktifitas, justru jadi masalah baru di
perkotaan. Sedangkan, keinginan memiliki mobil masih jadi mimpi sebagian orang.
Mobil tetap menjadi lambang kesuksesan, mobil tetap sebagai simbol kemakmuran.
Di tengah banyak masalah yang ditimbulkannya.
Ada kebanggaan atau kepuasan tersendiri memiliki mobil mewah.
Mungkin ini yang dirasakan para kolektor mobil mewah. Sebut saja bintang sepak
bola ternama Cristiano Ronaldo, merek-merek mobil Koenigsegg CCX, Rolls Royce Phantom Drophead Coupe, Maserati GranCabiro,
Audi Q7, Bugati Veyron, Ferrari 599 GTB Fiorano, Bentley Continental GTC, Aston
Martin DB9 dan Lamborghini Aventador sebagian koleksi mobil mewah bintang Real
Madrid ini. Dengan pendapatan Rp 505,7 miliar per tahun atau Rp 1,5
milyar per hari, wajar Cristiano Ronaldo
dapat mengoleksi 19 mobil mewah.
Terus bagaimana dengan 30 mobil mewah koleksi Akil Mochtar.
Dengan gaji sebagai ketua MK berkisar Rp. 40 juta per bulan. Tentu ini di luar
kewajaran.
Mobil mewah dengan koruptor memang tidak bisa dipisahkan. Lihat
saja beberapa kasus-kasus koruptor selalu terkait dengan mobil mewah yang
dimilikinya. Mengendarai mobil mewah Lamborgini Aventador dengan harga Rp. 10,5
milyar atau mobil mewah Farrari 458 dengan harga Rp 6 milyar mungkin menjadi
keinginan semua orang. Tapi tidak semua keinginan dapat kita wujudkan.
Memaksakan keinginan berujung pada menghalalkan segala cara. Korupsi jalan
cepat mewujudkannya selagi ada kesempatan. Mungkin ini pikiran sebagian
koruptor.
Lagi-lagi mobil jadi biang masalah, masih bermimpikah kita
punya mobil mewah. Silahkan, selama mewujudkan mimpi itu berada di jalan yang
benar.
Bagaimanapun mobil sudah menjadi lambang kesuksesan dan
simbol kemakmuran.
Dimut di Koran Harian
Tribun Timur, 3 Desember 2013.

Posting Komentar